13 April 2015

Keberhasilan Kelompok Tergantung Pemimpinnya

Sebuah organisasi, pemerintahan, kelompok akan maju, tidak maju, atau bahkan mundur tergantung pemimpinnya. Anggota dalam kelompok tersebut akan kompak, loyal, semangat membangun, atau sebaliknya tergantung pemimpinnya.

Hal ini terbukti dengan adanya kelompok dengan anggota yang sama bisa berbeda keberhasilannya saat dipimpin oleh pemimpin yang berbeda. Jika ada anggota kelompok yang menurun kinerjanya, berarti ada manajemen sistem yang kurang tepat. Mungkin rekan kerja yang tidak tepat, tanggung jawab yang tidak tepat, pembagian tugas yang tidak tepat, atau mungkin ada penyakit yang harus dimusnahkan.

Kemampuan manajemen sistem, manajemen masalah yang dimiliki pemimpin ini yang mempengaruhi keberhasilan kelompok.

05 March 2015

Menghargai Pekerjaan yang Tampak Sepele


Hai para istri...
Pernahkah merasa kesal dengan pertanyaan suami, "Ngapain aja seharian, suami pulang kok belum beres rumahnya?"

Hai para suami...
Pernahkan merasakan rumah kotor, piring dan baju kotor menumpuk saat istri sakit atau sedang diluar kota?

Sebagian dari kita menganggap pekerjaan rumah adalah pekerjaan yang tidak produktif, sepele, mudah dikerjakan, ringan dan tidak penting. Baju, piring, lantai yang telah dibersihkan akan kembali kotor setelah dipakai. Sehingga pekerjaan rumah cenderung tidak berbekas.

Akan tetapi, pekerjaan rumah berdampak besar jika tidak dikerjakan. Tidak ada baju bersih, piring bersih, rumah juga jadi kotor dan tidak nyaman.

Selain pekerjaan rumah, ada beberapa pekerjaan yang sepertinya ringan, sepele, tapi sangat penting.
a. Penjaga Palang Perlintasan Kereta Api
b. Tukang Tambal Ban
c. Penyapu jalan
d. Pemulung
e. dan lain-lain.

Masih banyak pekerjaan disekitar kita yang kelihatannya sepele, ringan, mudah, tapi kita belum tentu mampu, mau, sabar menjalani pekerjaan tersebut.

Oleh sebab itu mari kita menghargai seluruh jenis pekerjaan yang halal. Menghargai pekerjaannya, menghargai pekerjanya.

Untuk keharmonisan masyarakat demi Indonesia Sejahtera.

22 December 2014

Dia Berjalan 7 Km Setiap Hari



Suatu sore sebulan yang lalu saat pulang kerja, saya melihat seorang siswa yang berjalan kaki menuju rumahnya. Cukup jauh dari tempat sekolahnya. Hari ini saya mengantarkan siswa pulang yang kebetulan searah dengan tempat tinggal saya. Saat perjalanan kami berdialog tentang perjalan pulang setiap harinya.
“Setiap hari kamu jalan kaki pulang sekolah?”
“Iya Pak”
“Kalau berangkat?”
“Diantar abang saya pak”
“Trus pulangnya tidak dijemput?”
“Abang saya siang kerja, malam kuliah pak. Jadi g bisa jemput”
“Bapak?”
“Kerja juga pak, di luar kota. Senin baru pulang.”
Sesampainya dirumahnya, di Jl. Fajar Ujung, kurang lebih 6-7 km dari sekolahnya. Saya pulang sambil berfikir dan bersyukur. Tidak pantas kita mengeluh hanya karena 30 menit naik sepeda motor atau mobil dalam perjalanan kerja. Ada anak SMP yang berjalan kaki 6-7 km, kurang lebih 1,5 s.d 2 jam setiap hari, di terik panas kota Pekanbaru yang penuh asap kendaraan bermotor.
Kepada seluruh guru di negeri ini. Optimalkan belajar setiap harinya. Jangan hanya mengajar sekedarnya. Jangan hanya “mengandalkan” LKS. Jangan hanya sekedar melepas tanggung jawab. Banyak peserta didik yang bersusah payah dalam perjalanan menuju dan pulang sekolah.
Semoga ini menjadi penyemangat bagi saya, dan kita semua untuk berkerja dengan ikhlas, semangat, demi masa depan kita, anak cucu kita, nusa bangsa kita.

12 October 2014

Bekerja sesuai passion

Saya adalah jiwa yang masih bingung sebaiknya bekerja dibidang apa. Saya belum mengetahui minat dan bakat saya. Apakah harus bekerja sebagai pegawai dengan tekanan kerjanya, atau honor dengan minimnya peningkatan atau usaha pribadi dengan ketidak jelasannya.

Saya adalah jiwa yang mempunyai passion kerja yang senantiasa berubah. Terkadang suka administratif, design, pemrograman, kadang juga photograpy.

Hingga ada teman berkata "passion memang berubah-ubah. Rugi bagi orang yang hanya fokus terhadap satu bidang. Kerjakan sesuai passion saat itu."

Sehingga kini saya putuskan untuk bekerja mencari nafkah sesuai pekerjaan yang Allah pilihkan untuk saya dan meningkatkan kualitas diri dengan melakukan suatu pekerjaan sampingan sesuai passion saat itu.

Saat ini saya bekerja sebagai guru dan tata usaha sekolah. Malamnya saya belajar design, programming, sastra, dll sesuai passion saya saat itu.

Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi teman yang sedang mengalami hal yang sama dengan kisah ini.

01 June 2014

Tentang Segera Menikah

Sabtu, 10 Mei 2014 yang lalu saya baru saja menikah. Senin, 12 Mei 2014 resepsi pernikahan digelar. Saat itu usia saya 26 tahun 2 bulan. Usia yang cukup bagi pria untuk menikah.

Mungkin sebagian orang menganggap saya menikah diwaktu yang tepat. Di usia yang pas. Telah mempunyai pekerjaan, mampu memberi nafkah. Tapi sebagian yang lain menilai terlalu berani, terlalu terburu-buru. Belum punya apa-apa, belum jadi apa-apa.

Mulanya saya juga takut menikah muda. Takut tidak mampu memberi nafkah keluarga. Takut tidak mampu. Pendapatan masih minim. Pekerjaan belum bagus. Peluang dipecat ada. Aset belum punya.

Namun akhirnya saya yakin, bahwa Rizki Allah yang atur. Anak dan istri sudah punya rizki masing-masing. Saya hanya perlu berusaha dan berdoa.

Ternyata, menikah itu menyenangkan. Pendapatan yang saya fikir kurang justru berlebih. Muncul pintu rizki dari arah yang tak terduga. Jiwa menjadi tentram, terhindar dari maksiat. Motivasi kerja semakin tinggi.

Kini tinggal menjemput rizki Allah, untuk mempunyai asset dan rumah pribadi. Pembaca yang budiman, mohon doanya ya....

Jadi tunggu apalagi teman.... ayo menikah muda....