Showing posts with label My Opinion. Show all posts
Showing posts with label My Opinion. Show all posts

14 April 2015

Keluhan Anak Muda

Aku adalah pemuda 27 tahun yang sedang mencari jati diri. Belajar dari membaca buku, artikel, melihat lingkungan, dan melihat contoh orang dewasa lain di sekitarku. Contoh ini yang lebih cenderung berpengaruh terhadap pembentukan karakterku.

Beberapa orang dewasa memberikan contoh yang baik, tapi lebih banyak orang memberikan contoh yang buruk. Tapi bukan salah mereka. Mungkin dulu mereka juga sama seperti aku, mendapatkan contoh yang buruk.

Lalu apakah aku harus terjebak kondisi, mengikuti kegagalan mereka? Atau aku harus terseok-seok mencari jalan sendiri, memahami kegagalan mereka. Bukankah seharusnya yang tua mengayomi yang muda, bukan sebaliknya. Mungkin perlu lembaga pendidikan untuk menjadi orang tua (dewasa).

13 April 2015

Keberhasilan Kelompok Tergantung Pemimpinnya

Sebuah organisasi, pemerintahan, kelompok akan maju, tidak maju, atau bahkan mundur tergantung pemimpinnya. Anggota dalam kelompok tersebut akan kompak, loyal, semangat membangun, atau sebaliknya tergantung pemimpinnya.

Hal ini terbukti dengan adanya kelompok dengan anggota yang sama bisa berbeda keberhasilannya saat dipimpin oleh pemimpin yang berbeda. Jika ada anggota kelompok yang menurun kinerjanya, berarti ada manajemen sistem yang kurang tepat. Mungkin rekan kerja yang tidak tepat, tanggung jawab yang tidak tepat, pembagian tugas yang tidak tepat, atau mungkin ada penyakit yang harus dimusnahkan.

Kemampuan manajemen sistem, manajemen masalah yang dimiliki pemimpin ini yang mempengaruhi keberhasilan kelompok.

05 March 2015

Menghargai Pekerjaan yang Tampak Sepele


Hai para istri...
Pernahkah merasa kesal dengan pertanyaan suami, "Ngapain aja seharian, suami pulang kok belum beres rumahnya?"

Hai para suami...
Pernahkan merasakan rumah kotor, piring dan baju kotor menumpuk saat istri sakit atau sedang diluar kota?

Sebagian dari kita menganggap pekerjaan rumah adalah pekerjaan yang tidak produktif, sepele, mudah dikerjakan, ringan dan tidak penting. Baju, piring, lantai yang telah dibersihkan akan kembali kotor setelah dipakai. Sehingga pekerjaan rumah cenderung tidak berbekas.

Akan tetapi, pekerjaan rumah berdampak besar jika tidak dikerjakan. Tidak ada baju bersih, piring bersih, rumah juga jadi kotor dan tidak nyaman.

Selain pekerjaan rumah, ada beberapa pekerjaan yang sepertinya ringan, sepele, tapi sangat penting.
a. Penjaga Palang Perlintasan Kereta Api
b. Tukang Tambal Ban
c. Penyapu jalan
d. Pemulung
e. dan lain-lain.

Masih banyak pekerjaan disekitar kita yang kelihatannya sepele, ringan, mudah, tapi kita belum tentu mampu, mau, sabar menjalani pekerjaan tersebut.

Oleh sebab itu mari kita menghargai seluruh jenis pekerjaan yang halal. Menghargai pekerjaannya, menghargai pekerjanya.

Untuk keharmonisan masyarakat demi Indonesia Sejahtera.

22 December 2014

Dia Berjalan 7 Km Setiap Hari



Suatu sore sebulan yang lalu saat pulang kerja, saya melihat seorang siswa yang berjalan kaki menuju rumahnya. Cukup jauh dari tempat sekolahnya. Hari ini saya mengantarkan siswa pulang yang kebetulan searah dengan tempat tinggal saya. Saat perjalanan kami berdialog tentang perjalan pulang setiap harinya.
“Setiap hari kamu jalan kaki pulang sekolah?”
“Iya Pak”
“Kalau berangkat?”
“Diantar abang saya pak”
“Trus pulangnya tidak dijemput?”
“Abang saya siang kerja, malam kuliah pak. Jadi g bisa jemput”
“Bapak?”
“Kerja juga pak, di luar kota. Senin baru pulang.”
Sesampainya dirumahnya, di Jl. Fajar Ujung, kurang lebih 6-7 km dari sekolahnya. Saya pulang sambil berfikir dan bersyukur. Tidak pantas kita mengeluh hanya karena 30 menit naik sepeda motor atau mobil dalam perjalanan kerja. Ada anak SMP yang berjalan kaki 6-7 km, kurang lebih 1,5 s.d 2 jam setiap hari, di terik panas kota Pekanbaru yang penuh asap kendaraan bermotor.
Kepada seluruh guru di negeri ini. Optimalkan belajar setiap harinya. Jangan hanya mengajar sekedarnya. Jangan hanya “mengandalkan” LKS. Jangan hanya sekedar melepas tanggung jawab. Banyak peserta didik yang bersusah payah dalam perjalanan menuju dan pulang sekolah.
Semoga ini menjadi penyemangat bagi saya, dan kita semua untuk berkerja dengan ikhlas, semangat, demi masa depan kita, anak cucu kita, nusa bangsa kita.

12 October 2014

Bekerja sesuai passion

Saya adalah jiwa yang masih bingung sebaiknya bekerja dibidang apa. Saya belum mengetahui minat dan bakat saya. Apakah harus bekerja sebagai pegawai dengan tekanan kerjanya, atau honor dengan minimnya peningkatan atau usaha pribadi dengan ketidak jelasannya.

Saya adalah jiwa yang mempunyai passion kerja yang senantiasa berubah. Terkadang suka administratif, design, pemrograman, kadang juga photograpy.

Hingga ada teman berkata "passion memang berubah-ubah. Rugi bagi orang yang hanya fokus terhadap satu bidang. Kerjakan sesuai passion saat itu."

Sehingga kini saya putuskan untuk bekerja mencari nafkah sesuai pekerjaan yang Allah pilihkan untuk saya dan meningkatkan kualitas diri dengan melakukan suatu pekerjaan sampingan sesuai passion saat itu.

Saat ini saya bekerja sebagai guru dan tata usaha sekolah. Malamnya saya belajar design, programming, sastra, dll sesuai passion saya saat itu.

Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi bagi teman yang sedang mengalami hal yang sama dengan kisah ini.

01 June 2014

Tentang Segera Menikah

Sabtu, 10 Mei 2014 yang lalu saya baru saja menikah. Senin, 12 Mei 2014 resepsi pernikahan digelar. Saat itu usia saya 26 tahun 2 bulan. Usia yang cukup bagi pria untuk menikah.

Mungkin sebagian orang menganggap saya menikah diwaktu yang tepat. Di usia yang pas. Telah mempunyai pekerjaan, mampu memberi nafkah. Tapi sebagian yang lain menilai terlalu berani, terlalu terburu-buru. Belum punya apa-apa, belum jadi apa-apa.

Mulanya saya juga takut menikah muda. Takut tidak mampu memberi nafkah keluarga. Takut tidak mampu. Pendapatan masih minim. Pekerjaan belum bagus. Peluang dipecat ada. Aset belum punya.

Namun akhirnya saya yakin, bahwa Rizki Allah yang atur. Anak dan istri sudah punya rizki masing-masing. Saya hanya perlu berusaha dan berdoa.

Ternyata, menikah itu menyenangkan. Pendapatan yang saya fikir kurang justru berlebih. Muncul pintu rizki dari arah yang tak terduga. Jiwa menjadi tentram, terhindar dari maksiat. Motivasi kerja semakin tinggi.

Kini tinggal menjemput rizki Allah, untuk mempunyai asset dan rumah pribadi. Pembaca yang budiman, mohon doanya ya....

Jadi tunggu apalagi teman.... ayo menikah muda....

18 April 2014

Pengatrolan Nilai

Saya kemarin mendengar beberapa guru berdiskusi dan mengeluhkan masalah pengatrolan nilai.

Anak jadi sulit diatur, tugas jarang dikerjakan, tidak memperhatikan pelajaran, dan berbagai keluhan lain yang disampaikan, terjadi karena anak telah mengambil pengalaman dari masa yang lalu. Nilai rendahpun akan selalu berubah jadi tinggi, minimal kkm hanya dengan mengerjakan tugas. Bahkan tugas tidak dikerjakan sekalipun, masih mendapat nilai kkm.

Dari diskusi beberapa guru tersebut, saya menarik kesimpulan, alasan mengatrol nilai bukan karena sayang kepada anak,  itu alasan klasik. Itu justru penghancuran jiwa, semangat belajar, semangat juang, dan kejujuran siswa.

Saya tidak bermaksud menyelisihi pemerintah dengan sistem pendidikan ini. Saya juga masih awam. Belum mampu memberikan solusi.

Inilah suara anak bangsa, semoga menjadi bahan perencanaan sistem pendidikan mendatang.

Bagaimana menurut anda?

16 March 2014

Ketakutan, kegalauan, keresahan hidup karena kurang ilmu

Sehari ini saya berdiskusi dengan teman SMA, alumni S1 Universitas Diponegoro dan S2 ITB. Lebih tepatnya berguru, karena saya lebih banyak mendengar pengalaman hidupnya. Terkadang saya bertanya dan dia menjawab dengan pengalaman hidupnya.

Setelah berkeluh kesah tentang kegalauan hidup saya, dan mendengar penjelasan dari pengalaman hidupnya, saya sadar bahwa kegalauan, keresahan, ketakutan hidup yang saya alami itu terjadi karena kurangnya ilmu tentang hidup yang saya miliki.

Dari diskusi singkat itu, saya sadar bahwa ilmu hidup dapat saya peroleh dari silaturahim, diskusi dengan teman atau membaca buku, mungkin termasuk dengan membaca tulisan ini.

Bagaimana menurut anda?

14 March 2014

Asap Salah Satu Bukti Keterbatasan Manusia

Sebulan lebih asap menyesakkan dada masyarakat Riau. Segala upaya pemadaman titik api telah dilakukan. Mulai dengan water booming, pengendalian cuaca, hingga shalat Istisqa memohon turun hujan. Namun titik api tak kunjung habis, bahkan asap semakin tebal.

Dahulu mungkin masyarakat Riau merasa aman dari bencana yang menimpa propinsi tetangga, seperti tsunami, banjir, gunung meletus, dan longsor. Mungkin masyarakat Riau menganggap Riau adalah propinsi dengan kemungkinan bencana yang rendah. Mungkin tak pernah terpikir asap akan menjadi bencana besar seperti sekarang.

Kini ketika bencana asap itu datang, kita tak dapat menolak. Bahkan dengan berbagai usaha yang telah dilakukan, asap tetap datang.

Ini adalah salah satu bukti keterbatasan manusia. Sehebat apapun teknologinya, sejenius apapun SDM nya, sekaya apapun propinsinya, tak ada yang mampu menolak takdir Tuhan.

Mari menarik hikmah dari setiap kejadian.

28 February 2014

Kesenjangan Sosial Jangan Dikeluhkan

"Jika orang kaya sakit, segera dan banyak yang menjenguk. Jika orang miskin (baca:lebih rendah tingkat ekonominya) sakit, ditunda dan sedikit yang menjenguk. Saya sakit, hanya dua orang yang menjenguk". Kalimat itu saya dengar beberapa hari yang lalu sebelum menjenguk rekan kerja yang sakit, saya tulis dengan redaksi berbeda.

Keluhan di atas adalah salah satu bukti ada kesenjangan sosial akibat ekonomi.

Akan tetapi, benarkah masalah menjenguk orang kaya dan  orang kurang mampu hanya karena faktor ekonomi?

Sedikit membandingkan dengan kisah orang kurang mampu yang lain. Ada orang kurang mampu yang jika ia sakit, banyak yang menjenguk. Orang merasa kehilangan tanpa kehadiran orang ini.

Lalu... Apa sesungguhnya faktor lain yang mempengaruhi kesenjangan sosial ini?

Secara alami, manusia akan merasa kehilangan jika sesuatu yang hilang itu sangat penting, banyak manfaatnya. Sesuatu itu bisa berupa benda, alat atau orang. Jadi mungkin kemanfaatan kita juga berpengaruh tentang kesenjangan sosial ini.

Jika orang kaya, memberi manfaat dengan hartanya. Orang yang kurang mampu bisa memberikan manfaat dengan tenaga, pikiran, bahkan perhatian juga bisa mendatangkan manfaat.

Hal yang sulit adalah menata hati agar mampu bermanfaat dalam kondisi kekurangan.

Menurut pemikiran saya, terkadang orang kurang mampu cenderung minder, malu untuk bergaul dengan orang kaya. Ada juga yang merasa kurang cocok dengan gaya pergaulan, pembicaraan orang kaya. Hal ini mengakibatkan kurangnya kedekatan antara orang kaya dan orang kurang mampu.

Pikiran kurang cocok, perasaan minder ini bisa terjadi akibat kurangnya ilmu, ilmu pergaulan, ilmu sosial, dan ilmu yang lainnya. Hal ini juga bisa terjadi karena hati yang sempit, kelam, yang senantiasa berburuk sangka, minder, dan berbagai perasaan buruk lainnya.

Bukankah jika kita ingin bahagia dunia dan akhirat, bisa kita raih dengan ilmu?

Bukankan jika segumpal daging bernama hati baik, maka akan baik keseluruhannya?

Mari sama-sama menjernihkan hati meningkatkan ilmu. Kesenjangan sosial jangan dikeluhkan.

Ini hanya sebagian kecil penyebab kesenjangan sosial. Penulis pemula ini hanya bermaksud belajar menulis, berbagi pemikiran, berharap menjadi blog motivasi, blog inspirasi, blog terbaik, tentu dengan kritik dan saran dari sahabat semua.

Bagaimana menurut sahabat pembaca?

26 February 2014

Sudah Tidak Zamannya Lagi Atasan Kolot

Beberapa hari belakangan ini, salah seorang pembaca blog ini menceritakan bahwa dia tertekan sekali karena pengawas yang mengawas di sekolah tempat dia mengajar begitu nyinyir. Memberikan berbagai kritik tanpa solusi. Bahkan ketika ditanya, jawabannya tidak mencerminkan seorang pengawas. Kesannya baru kemaren sore naik pangkat jadi pengawas.

Seorang teman saya yang lain, mengalami masalah sejenis. Memilih mengundurkan diri karena beban kerja yang tidak sesuai, akibat pimpinan baru yang kurang bijaksana. Saya pikir perusahaan tersebut telah kehilangan karyawan potensial akibat mengangkat pimpinan baru yang kurang kompeten.

Berbanding terbalik dengan itu, saya merasa beruntung mempunyai pimpinan yang luar biasa. Mengetahui kemampuan saya, mampu memotivasi saya, memberikan kepercayaan kepada saya sesuai kemampuan yang saya miliki, mampu menyelesaikan masalah kami para bawahan dengan cepat dan bijaksana, memberikan tugas sesuai kemampuan kami, humoris pada waktu yang tepat, dan berbagai kriteria pimpinan luar biasa yang beliau miliki.

Berdasarkan uraian di atas, saya menggaris bawahi pentingnya pimpinan yang luar biasa. Pimpinan perusahaan, lembaga pendidikan, atasan, atau apapun sebutan untuk orang yang mempunyai bawahan, tidak zamannya lagi pimpinan kolot, Menekan, berkuasa, semena-mena, otoriter, diktator, sok berkuasa dll.

Saya juga belum pernah jadi pemimpin besar. Tapi setidaknya pemimpin yang saya harapkan itu yang mampu memimpin, memahami, mengenali orang yang dipimpin, mangayomi, memotivasi, komunikatif, kreatif dan inovatif. Kriteria pemimpin yang baik juga telah banyak ditulis . Diantaranya 10 kriteria pemimpin yang baik, 7 Ciri Pemimpin yang Baik.

Karyawan, bawahan, atau orang yang dipimpin juga merupakan aset. Aset yang perlu dijaga. Tekanan terkadang bukannya membuat mereka bekerja sesuai target yang ingin diraih, justru membuat hasil yang tidak optimal.

Kewibawaan tidak lagi dicerminkan dengan kemampuan memerintah, kekuasaan, pangkat, atau kediktatoran, tapi lebih kepada kualitas. Kualiatas dan kemampuan memimpin.

Jika ada bawahan, atau tim yang bandel, atau tidak bisa diatur, pemimpin tidak boleh serta merta menyalahkan keadaan, justru pada kondisi demikian kualitas dan kemampuan memimpinnya diuji. Sebuah contoh, dengan anggota tim yang sama, kualitas tim yang sama, bisa menghasilkan tim atau produk yang berbeda, jika pemimpinnya berbeda. Ini membuktikan bahwa bukan anggota tim yang bermasalah, tetapi kemampuan pimpinan mengelola seluruh komponen dengan tepat adalah penentu keberhasilan sebuah tim.

Ini hanya pendapat penulis pemula. Berusaha menjadi blog inspiratif, blog motivasi dan tempat berbagi pemikiran. Bagaimana menurut anda?

24 February 2014

Siapa yang Sesungguhnya Benar

Pagi ini saya membaca tulisan di sebuah blog yang sangat aktif. Tulisan tentang Gejolak Anak Muda. Tulisan ini sangat baik sekali.

Salah satu poin dalam tulisan ini adalah tulisan anak muda yang menggebu-gebu. Seolah mereka mengetahui segalanya.

Saya merasa adalah salah satu dari anak muda itu. Sering kali saya menulis di sosial media tentang kritikan, saran, keluhan yang saya tujukan kepada pejabat, sistem pemerintahan, dan masyarakat umum. Merasa mengetahui segalanya.

Tujuan saya menulis demikian bukanlah karena merasa paling benar, akan tetapi mencoba mengingatkan, berbagi pemikiran dan belajar menulis. Saya juga berharap mendapat respon berupa saran atau pemikiran yang lebih baik. Respon yang membuat pemikiran saya semakin baik dan benar.

Terkadang saya menemukan tulisan saya yang lalu salah, setelah saya mendapat respon dari pembaca atau bahkan setelah mengalami langsung hal yang terkait dengan tulisan saya tersebut. Terkadang kesalahan tulisan tersebut saya temukan setelah saya membaca, melihat, atau menggali beberapa sumber.

Berdasarkan kesalahan tersebut, saya memutuskan untuk lebih mempersiapkan tulisan yang akan saya tulis. Membaca, bertanya dan menggali kebenaran untuk tulisan yang akan saya tulis. Akan tetapi hal ini justru menghambat proses belajar menulis saya, atau bahkan menghentikan proses berpikir. Begitu banyak argumen yang berbeda dan mempunyai kebenaran masing-masing.

Respon dari pembaca tulisan saya beragam. Anak muda mayoritas pro dengan tulisan saya. Sebagian orang tua menganggap saya sok tau. Atau sekedar mengatakan, "Kamu masih muda, belum merasakan, belum terjun langsung, masih idealis, dll". Sebagian orang tua yang lain datar saja. Mungkin mereka lebih memilih membiarkan saya menemukan kebenaran sendiri. Sebagian orang tua lagi aktif memberikan beragam masukkan, yang terkadang benar, namun ada juga yang melebar kemana-mana. Bahkan ada respon orang tua yang lebih sempit dari pemikiran saya.

Lalu... Siapa yang sesungguhnya benar? Apakah saya sepenuhnya salah? Apakah saya harus berhenti menulis karena belum terjun ke bidang yang saya tulis? Apakah saya harus menjadi tua tanpa membaiknya pola pikir saya? Apakah saya harus diam dan mengikuti jejak orang tua yang sekarang sempit pemikirannya?

Ini sekedar tulisan anak muda yang menggebu-gebu, masih belajar merangkai kalimat, masih belajar mengatur sudut pandang pemikiran. Berusaha menjadi penulis blog terbaik, blog inspirasi, blog motivasi, blog tempat berbagi pemikiran.

05 February 2014

Stadiun Utama Riau yang "Terabaikan"


Stadiun kebanggaan Rakyat Riau ini hampir hilang nilai kebanggaannya. Bahkan ternodai dengan hal-hal negatif. Jika malam hari tiba, Stadiun yang pernah menjadi venue PON ini menjadi tempat mesum beberapa pasangan remaja SMA dan Mahasiswa. Kejahatan geng Motor juga pernah terjadi di kawasan ini.

Stadiun yang belum lunas ini (- Rp165.252.591.685) , kini kondisinya mengenaskan, terabaikan dan tidak terawat. Banyak sampah  ditinggalkan para remaja usai duduk santai atau olahraga. Tidak sedikit coretan merusak pemandangan. Rumput yang ditanam tak sempat menghijau bahkan mati karena selalu dilewati pejalan kaki, sepeda motor dan mobil. Taman yang tak terjaga atau mungkin konstruksinya yang tidak kokoh, juga longsor. Lampu taman, kaca sebagian pecah. Lampu tembak menyala di siang hari.

Jika dikelola dengan baik, sesungguhnya Stadiun dengan nilai kontrak Rp932.679.037.750 ini bisa menjadi tempat olahraga dan rekreasi yang menyenangkan. Pedagang dan pengunjung yang sangat ramai bisa menjadi sumber pendapatan untuk merawat stadiun. Setidaknya untuk membayar tenaga kebersihan dan keamanan.
Tulisan ini masih dangkal. Masih tahap belajar menulis. Mencoba menebar pemikiran untuk kebaikan, bukan untuk perselisihan. Mohon kritik dan saran yang membangun.

22 April 2013

Pawai anak TK dan Macet

Anak-anak adalah calon penerus perjuangan negeri ini. Perkembangan kecerdasan, cita-cita dan akhlak adalah hal penting baginya. Pendidikan yang tepat adalah salah satu cara meningkatkan kualitas kecerdasan dan akhlak anak-anak.
Pendidikan adalah salah satu langkah baik untuk meningkatkan kecerdasan anak. Langkah atau niat baik harus dilakukan dengan cara yang baik. Hal ini seperti memberi makanan yang halal untuk pertumbuhan anak.
Pawai anak TK, yang biasanya menggunakan aneka kostum mulai dari kostum polisi, dokter, TNI dll, berjalan di tepi bahkan tengah jalan yang menyebabkan kemacetan panjang. Hingga saat ini saya belum tahu apa tujuan pawai ini. Apakah untuk menggambarkan cita-cita anak, hiburan anak, sekedar pengisi kegiatan kurikulum TK (dari pada hanya nyanyi-nyanyi), atau proyek lembaga tertentu agar orang tua memberikan uang tambahan untuk acara tersebut, atau bahkan hanya untuk pamer bahwa TK tertentu lebih eksis dari TK lainnya.
Akibat dari pawai ini yang jelas tampak adalah kemacetan, anak yang kelelahan jalan jauh. Sedangkan dampak positif masih samar. Kalaupun ada dampak positif tetapi dengan cara merugikan banyak pengguna jalan yang lain. Apakah dampak tersebut memberikan berkah? Ataukah hanya melahirkan penerus yang cerdas namun tak berakhlak, hanya mementingkan kepentingannya tanpa memperhatikan kepentingan orang lain.
Generasi yang akan datang tergantung kepada bagaimana kita memberikan asupan gizi dan makanan halal serta asupan pendidikan yang membawa berkah.
Saya hanya berpendapat. Jika ada sahabat yang ingin menyumbang pemikiran, saya sangat berterima kasih dengan komentar yang sahabat tuliskan di sini.

04 April 2013

Tatanan buku pustaka di kampus ku

Beberapa waktu di akhir masa kuliah, saya banyak menghabiskan waktu di perpustakaan universitas.

Saya cukup senang bisa menikmati sistem terkomputerisasi yang belum lama ini diberdayakan di perpustakaan ini. Peningkatan mulai tampak. Sebelumnya saya harus berurusan dengan petugas perpustakaan yang tidak ramah. Sekarang proses peminjaman buku langsung berinteraksi dengan sistem.

Jika boleh menyarankan, koleksi buku disusun dengan rapi. Jumlah koleksi buku juga sebaiknya di tambah.
Semoga mahasiswa akan datang dapat menikmati perpustakaan yang lebih baik.

21 February 2013

Tentang berpendapat dan mengomentari pendapat

Beberapa hari belakangan saya sering mendengar dan membaca tentang perbedaan pendapat yang berakhir dengan kalimat yang menurut saya kurang nyaman didengar/ dibaca. Hal ini menarik saya untuk sekedar berpendapat meskipun saya juga terkadang terjebak dalam kondisi ini (kurang tepat dalam berpendapat).

Manusia pada hakikatnya menginginkan yang terbaik bagi dirinya juga orang di sekitarnya. Manusia ingin membuat perubahan yang baik dan langkah awalnya adalah dengan berpendapat. Sebagian berpendapat tentang pengemis, sampah, polusi, agama dan lain sebagainya yang pada intinya menginginkan peningkatan kualitas hidup.

Masalah yang timbul adalah kurangnya pengetahuan tentang topik yang dibahas, tentang cara menyampaikan pendapatnya dan naluri manusia untuk dianggap benar. Ketidaktahuan ini bisa terjadi karena kurangnya membaca, terbatasnya kemampuan memahami bacaan, keterbatasan kemampuan belajar dari kejadian dan keterbatasan yang lain.
 
Jika saya bertanya, adakah dari kita yang ingin terlahir dengan IQ, EQ dan SQ rendah? Adakah dari kita yang ingin terlahir jadi manusia pemalas, gagal, bodoh, terbelakang? Mungking jawabnya tidak ada yang ingin. Lantas mengapa kita masih mengumpat orang dengan kemampuan minim dalam memahami topik? Lantas mengapa kita masih "menyalahkan" pendapat teman kita yang salah?
 
Jika anda perpendapat mengapa mereka (yang salah dalam berpendapat, red) tidak membaca atau belajar dulu sebelum berpendapat. Mengapa mereka tidak meningkatkan kualitas diri dulu. Jika saya boleh berpendapat, ada orang yang mungkin batas kemampuanya hanya segitu (tidak bisa bertambah lagi/ sulit di asah lagi). Jadi, apakah salah ketika orang yang kurang beruntung itu berpendapat sekedar ingin meningkatkan kualitas kehidupan? Jika salah pendapat mereka (orang yang kurang kemampuannya, red), mari kita benarkan dengan cara yang tepat pula.

Berpendapat juga perlu memikirkan langkah dan cara yang baik dalam berpendapat sehingga tidak memancing komentar yang kurang nyaman didengar. (Apalagi kita mampu untuk memikirkan cara yang baik dalam perpendapat tetapi tidak mau untuk memikirkannya).
 
Tulisan ini hanyalah pendapat saya. Saya berharap bisa jadi renungan bagi saya juga pembaca. Saya berharap kita bisa membenarkan pendapat yang salah dengan cara yang benar. Kegiatan yang baik tetapi di lakukan dengan cara yang salah juga tidak benar.
 
Akhirnya saya mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam tulisan saya.

16 February 2013

Mengapa kuliah lama selesai?

Saya adalah mahasiswa tingkat akhir Universitas negeri di Pekanbaru. Sudah semester 13 sekarang, dan sebentar lagi semester 14.

Hingga tulisan ini saya buat, tidak lebih dari 50% teman saya yang sudah lulus kuliah. Hal ini sangat memprihatinkan, mengingat kami sudah semester 13. 

Masalah umum yang kami hadapi adalah kesulitan menentukan topik skripsi yang berkepanjangan sehingga mengakibatkan stres dan berkelanjutan menjadi kemalasan. 

Lalu mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa topik sulit dipilih? Apakah topik itu benar-benar sulit ditentukan?  Mengapa mahasiswa tingkat menengah dan tingkat akhir lebih banyak di kos dari pada di kampus? Mengapa pada akhirnya hanya dengan 3-4 bulan sebagian besar bisa lulus. Mengapa harus ditunda kelulusan itu hingga tingkat akhir?

Pengalaman pribadi saya, saya lambat menentukan topik skripsi saya karena saya merasa bimbang, antara mampu atau tidak saya dalam menyelesaikan topik yang akan saya pilih.

Masalah di atas kini telah selesai dengan menghubungi dosen dan saya meminta topik/ judul yang kira-kira saya mampu menyelesaikannya. Meminta topik kepada dosen lebih optimal dari pada hanya sekedar berfikir penuh keraguan di kamar kos.

Kini masalah yang saya hadapi adalah kemalasan ketika saya mulai mengalami hambatan dalam proses penyelesaian tugas akhir saya.

Semoga tulisan ini menjadi semangat bagi saya juga bagi teman-teman yang membaca. Penggalan kalimat dari MT yang menurut saya baik, "Dua hal besar yang membuat kemajuan anda terasa lambat adalah keragu-raguan dan penundaan. Orang yang bodoh tapi yakin lebih hebat dari pada orang pintar tapi ragu"

20 March 2012

Our father always love us

This night, I watch movie "The little comedian". The movie talk about daddy's love to his son. The son feel that his father do not love him because he can not make something funny. But, actualy, the father love him. I can not tell all story of the movie. The important thing is our father always love us although we can not see his love.

02 March 2012

Juvenile delinquency

Juvenile delinquency, this topic has been being discussed this month. Student have been being joining the club "geng motor". Student also impair Mapolresta. (Tribun Pekanbaru, 3, 2nd, 2012). We can not blame school entirely, because the parent also have responsibility to their children.
I think, we also need education for teacher and parent. Education about how to teach their children.

26 February 2012

New methods to Study English

I'm not good in English, but I always want to be better. Two days ago, I searched good method to study English. All of them just share the method that can not make me dare. But tonight, I begin with type my keyboard on http://translate.google.co.id.


Open Two tab on browser, make your sentense at one http://translate.google.co.id, English to Indonesia using English and another tab Indonesia to English to find word that you do not know.